Blog ini tidak sesuai dibaca oleh umat Kristian kecuali yang ingin mencari kebenaran.

Blog ini bertujuan untuk mempertingkatkan keyakinan (iman) umat Islam daripada ancaman kerosakan akidah meyakini Alkitab (Bible) sebagai Kitab Injil yang asli. Ini kerana terdapat pelbagai (banyak) kelemahan dalam Alkitab (Bible) yang dikenalpasti melalui penyelidikan.

Ini secara langsung membatalkan kesucian
Alkitab (Bible) sebagai kitab Allah.


Wednesday, 21 May 2014

Menolak kekafiran Kristian berdasarkan Al-Quran?

Dakwaan Misonaris Kristian Tidak Kafir menurut Al-Quran

Misonaris membuat dakwaan kononnya bahawa

Orang kristen kafir; karena berkata: "Allah mempunyai anak."(QS. 2 Al Baqarah -sapi betina- 116)

Bertentangan dengan:

Orang Kristen di atas orang kafir sampai hari kiamat (QS. 3 Ali Imraan -keluarga Imraan- 55)

Bantahan/Jawapan

Mari kita mengkaji ayat-ayat yang dimaksudkan oleh para misionaris yang mendakwa bahawa ayat-ayat tersebut bertentangan antara satu sama lain.

Berikut adalah ayat Surah Al-Baqarah (2): 116 berserta terjemahannya:

Surah Al-Baqarah : 116

Dan mereka berkata : Allah telah mengambil anak! Maha Suci Dia; bahkan kepunyaan-Nyalah apa yang ada di semua langit dan bumi; semuanya kepada-Nyalah bertunduk

Berikut pula adalah konteks ayat Surah Ali Imran (3): 55 beserta terjemahannya:

(Ingatlah) tatkala Allah berkata :  Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mengambil engkau dan mengangkat engkau kepada-Ku, dan membersihkan engkau daripada orang-orang yang kafir, dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau lebih atas dari orang-orang yang kafir itu sampailah hari Kiamat. Maka kepada Akulah tempat kamu kembali, maka akan Aku putuskan nanti di antara kamu dari hal apa-apa yang telah kamu perselisihkan padanya itu.

Bantahan para misionaris adalah pada penggunaan kata-kata  "...akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau lebih atas dari orang-orang yang kafir itu sampailah hari Kiamat" di dalam ayat Surah Ali Imran (3): 55.

Menurut fahaman para misionaris, mereka adalah pengikut-pengikut Nabi 'Isa a.s. yang mengamalkan ajaran-ajarannya, oleh itu ayat ini bertentangan dengan ayat yang mengatakan bahawa orang Kristian adalah kafir.

Untuk menjawab tuduhan ini, eloklah sekiranya kita merujuk kepada Tafsir Al-Azhar, karangan Prof. Dr. Hamka yang mengulas secara mendalam dan teliti tafsiran bagi ayat-ayat yang dirujuk di atas.

Di dalam Tafsir Al-Azhar (Juzu' 1-2-3, m.s. 279-280), Dr. Hamka menjelaskan ayat Surah Al-Baqarah (2): 116 seperti berikut:

"Dan mereka berkata; Allah telah mengambil anak." (pangkal ayat 116). Atau diturunkan asal arti dari Ittakhadza : Allah telah mengambil anak.

Orang Nasrani mempunyai kepercayaan bahwa Nabi Isa Almasih itu adalah anak Allah.

Sebagian dari orang Yahudi pun demikian pula, ada yang mengatakan bahwa Uzair atau Izair Imam besar dan Nabi yang membangkitkan kembali Kerajaan Bani Israil setelah penawanan raja Nebukadnezar, adalah anak Allah.

Orang musyrikin penyembah berhala di tanah Arab ada pula yang mengatakan bahwa Malaikat-malaikat itu adalah anak Allah dan perempuan semua.

Di dalam catatan yang oleh orang Yahudi disebut Taurat, ada dikatakan bahwa Bani Israil itu adalah anak Allah.

Ayat ini adalah pertaliannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya.

Tempat beribadat kepada Allah hendaklah dimakmurkan dan jangan dihalang-halangi.

Timur dan Barat, Utara dan Selatan, seluruhnya kepunyaan Allah dan kepada-Nyalah menghadap yang sebenarnya.

Tetapi hendaklah menetapkan benar-benar dalam hati siapa dan bagaimana yang sebenarnya Allah itu.

Dia Tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Hendaklah bersihkan kepercayaan kepada-Nya.

Jangan dikatakan Dia beranak, karena Tuhan itu bukan makhluk yang memerlukan keturunan untuk meneruskan atau atau menyambung kekuasaan-Nya kalau Dia mati.

Allah itu hidup terus; tidak akan mati-mati. "Maha Suci Dia" Tidak masuk dalam akal yang murni bahwa Dia beranak. "Bahkan kepunyaan-Nyalah apa yang ada di semua langit dan bumi; semuanya kepada-Nyalah bertunduk." (ujung ayat 116). Hanya sati Doa.

Tidak ada anak-Nya.

Yang selainnya ini, segala kandungan semua langit, segala kandungan bumi, semuanya di bawah kekuasaan-Nya.

Dan semua patuh, menekur bertunduk kepada-Nya.

Sama saja di antara makhluk yang beku dengan makhluk yang bernyawa.

Malaikat bukan anak-Nya, manusia pun bukan anak-Nya, tetapi makhluk-Nya.

Yang terjadi karena diciptakan-Nya. kamu orang musyrikin; kamu katakan Malaikat anak Allah, lalu kamu ambil kayu atau batu menjadi berhala dan patung , lalu kamu sembah.

Sebab katamu dia anak Allah! "Maha Suci Dia!" kamu orang Nasrani: Isa Almasih yang lahir dengan kuatkuasa Ilahi menurut jalan yang tidak terbiasa, kamu katakan pula anak Allah.

Kalau kamu fikirkan hal itu dalam-dalam kamu sendiri akan bingung dengan kepercayaanmu itu.

Isa Almasih itu makan dan minum sebagai manusia biasa.

Padahal Tuhan Allah tidak makan dan minum.

Dan Isa Almasih itu kalau mengantuk matanya, diapun tidur.

Sedang Tuhan Allah tidak pernah tidur.

Dan di dalam buku yang sama (ibid, m.s. 181), Dr. Hamka menerangkan hujung ayat Surah Ali-Imran (3): 55, seperti berikut:

Kemudian datanglah lanjutan ayat "Dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau lebih atas dari orang-orang yang kafir itu sampai hari kiamat." Artinya, bahwasanya orang-orang yang teguh memegang ajaran Nabi Isa Almasih yang asli, yaitu tauhid, akan tetap lebih atas karena kebenarannya tidak dapat dijatuhkan, dan kepercayaan-kepercayaan yang kuat itu kian lama kian hilang pasarannya dari muka bumi.

Pengetahuan manusia akan bertambah maju.

Kemajuan pengetahuan akhir-kelaknya tidaklah akan sampai kepada mengatakan bahwa Allah itu bertiga dalam satu dan satu dalam tiga.

Bertambah orang menyelidiki kebenaran dan suka membebaskan dirinya dari paksaan taqlid kepada pemimpin agama dan pendeta, bertambahlah akan nampak kemenangan orang-orang yang benar-benar mencari kebenaran dalam dunia ini.

Sebab Allah itu sendiri adalah kebenaran: AL-HAQ.

Kesimpulannya jelas, bahawa apa yang dimaksudkan dengan "...akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau (Isa) lebih atas dari orang-orang yang kafir itu sampailah hari Kiamat" bukannya merujuk kepada orang-orang Kristian sekarang, tetapi merujuk kepada pengikut-pengikut Nabi 'Isa  yang tidak menjadikan 'Isa Almasih sebagai Tuhan, mereka percaya kepada Tuhan Allah yang Tunggal, dan mengakui kerasulan 'Isa Almasih.

Dan memang wujud sekte-sekte Kristian seperti orang Nasrani, Ebionim, Arian dan sebagainya yang menolak  kepercayaan Trinitas sehinggalah pada tahun 325 M, apabila gereja Paulus mengumumkan bahawa "ajaran Trinitas" itulah yang benar dan sesiapa yang tidak menganut kepercayaan ini adalah kafir dan wajib dibunuh.

Untuk pengetahuan pembaca, di dalam Perjanjian Baru sendiri tidak ada sepatah pun perkataan 'Isa a.s. yang secara terang-terangan mengakui dirinya sebagai Tuhan atau mengajar kepada para pengikutnya supaya menyembah dirinya sebagai Tuhan.

Malah, tidak ada langsung ajaran "Tiga Oknum" (Trinitas), sebagaimana yang dipercayai oleh orang-orang Kristian hari ini.  'Isa  secara terang-terangan bersabda:

Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah Yang Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu (Yohannes 17:3)

Kita menyambut sabda baginda itu dengan ucapan: Asyhadu alla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna 'Isa Rasulullah.

Dakwaan Tentang Pembunuhan Nabi Isa AS

Misonaris membuat dakwaan kononnya bahawa

Isa tidak dibunuh melainkan diangkat (QS. 4 An Nisaa -wanita- 157-158)

Bertentangan dengan:

Isa lahir, telah wafat, dan bangkit hidup kembali (QS. 19 Maryam 33)

Bantahan/Jawapan

Berikut adalah konteks ayat Surah An-Nissa' (4): 157-158 berserta terjemahannya:

Surah An-Nissa' : 157-158

"Dan kerana ucapan mereka" 'Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, 'Isa putera Maryam, Rasul Allah' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahawa mereka bunuh itu adalah 'Isa.

"tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Berikut pula adalah ayat Sura' Maryam (19): 33 berserta terjemahannya

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."

Tidak ada pertentangan antara kedua-dua ayat tersebut.

Ayat yang pertama, iaitu  Surah An-Nissa' (4): 157-158  menceritakan bahawa Nabi 'Isa  telah diselamatkan daripada mati disalib dan diangkat ke langit oleh Allah s.w.t., yang bermakna bahawa 'Isa  belum mati dan akan kembali ke dunia pada akhir zaman.

Memandangkan Isa a.s. belum lagi mati menurut al-Qur'an, maka kata-kata 'Isa a.s. di dalam Surah Maryam (19): 33 yang mengatakan bahawa dirinya akan mati semasa dia bercakap dari dalam buaian hanya akan berlaku apabila dia muncul pada akhir zaman dan membunuh ad-Dajjal.

Kepercayaan tentang kembalinya 'Isa a.s. ke dunia untuk membunuh ad-Dajjal juga merupakan perkara pokok dalam kepercayaan orang-orang Kristian.

Masalah "perselisihan" dalam pemahaman para misionaris timbul disebabkan mereka tidak menimbangkan hadis-hadis Rasulullah s.a.w. yang menceritakan tentang kemunculan 'Isa  di akhir zaman.

Riwayat ini memang terdapat di dalam sebuah hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Hadis yang dimaksudkan adalah seperti berikut, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., di mana Rasulullah s.a.w. bersabda seperti berikut:

Demi Tuhan yang nyawaku berada di dalam genggaman-Nya! Saatnya hampir tiba bahawa Anak Maryam akan turun dan berada di tengah-tengah kamu sebagai hakim yang adil, yang akan membunuh dajjal dan babi, menghancurkan salib, membebaskan pajak cukai dan membahagi-bahagikan harta sehingga tiada seorangpun menerimanya dan bahawa bersujud adalah lebih baik dari dunia seisinya.

Kesimpulannya adalah jelas: bahawa Nabi 'Isa tidaklah wafat karena dibunuh atau disalib dan sebenarnya apa yang digambarkan oleh Al-Qur'an adalah sama dengan apa yang digambarkan di dalam Perjanjian Baru sebagaimana yang termaktub di dalam Yohannes 12:27-29, di mana Yesus berdoa agar namanya dimuliakan dan Allah pun mengabulkan permohonan itu.

Dengan demikian sudah jelas dan pasti bahwa menurut Injil juga, 'Isa tidak disalib, karena setiap orang yang tersalib itu terkutuk, padahal Allah memuliakannya.

Bolehkah para misionaris masih mendakwa bahawa ayat-ayat al-Qur'an ini bertentangan?

Tidak sama sekali!

Dakwaan Tentang anak Nabi Nuh

Dakwaan Misonaris Tentang anak Nabi Nuh

Misonaris membuat dakwaan kononnya bahawa

Anak Nuh, berenang ke gunung waktu air bah dan tenggelam. (QS. 11 Huud 42-43)

Bertentangan dengan:

Nuh berdoa, doanya berkenan kepada Allah, maka diselamatkan beserta keluarganya. (QS. 21 Al Anbiyaa -nabi nabi- 76)

Bantahan

Mari kita mengkaji ayat-ayat yang dimaksudkan oleh para misionaris yang mendakwa bahawa ayat-ayat tersebut bertentangan antara satu sama lain.

Berikut adalah ayat Surah Hud (11): 42-43 berserta terjemahannya

"Dan bahtera itu berlayar membawa mreka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, 'Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.'

"Anaknya menjawab: 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!' Nuh berkata: 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan."

Berikut pula adalah ayat Surah Al-Anbiyaa' (21): 76 berserta terjemahannya:

"Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya lalu Kami selamatkan dia berserta ahlinya dari bencana yang besar."

Tetapi apa yang para misionaris mendakwa sebagai suatu "percangggahan" sebenarnya sudah dijawab di dalam Surah Hud (11): 46, seperti berikut

Surah Hud : 46

"Allah berfirman: 'Hai Nuh, sesungguhnya dia [anak Nabi Nuh yang ditenggelamkan itu] bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan'"

Sebenarnya, ayat yang telah disebutkan di atas sudah cukup untuk menyangkal dakwaan para misionaris, tetapi penjelasan yang lebih mendalam dengan merujuk kepada nahu bahasa Arab perlu diberikan.

Perkataan ahl () dan zurriyah () dalam Bahasa Arab bermaksud 'keluarga' dan 'keturunan' atau "milik keturunan".

Dua perkataan yang digunakan ini walau bagaimanapun mempunyai ertikata yang jauh lebih luas daripada maksud 'keluarga biologi" atau "milik keturunan" semata-mara.

Kata-kata ini juga boleh bermaksud "pengikut seseorang". Kamus "Al-Mawrid" Bahasa Arab - Bahasa Inggeris dengan jelas menerangkan mengenai perkataan ini seperti berikut:

*AHL* Bila kata-kata merujuk kepada seorang lelaki , ia membayangkan keluarga dan mereka yang mempunyai hubungan rapat dengannya dia; jamak perkataan ini. 'AHLOON', 'AHAAL', 'AAHAAL', 'AHLAAT' dan 'AHALAAT'YA' ditambah ke dalam jamaknya, semasa ia dikatakan: "Raja`oo ilaa Ahaaleehim"(Mereka kembali kepada keluarga mereka). Di dalam "Al-rajul Ahl" kata-kata merujuk kepada ' isteri'; di dalam "Ahl kull nabiyin" (AHL untuk setiap orang nabi), kata-kata merujuk kepada kumpulan pengikut milik nabi; di dalam "Al-balad Ahl" atau "Al-bayet Ahl", kata-kata merujuk kepada penduduk; di dalam "Al-amr Ahl" kata-kata merujuk kepada orang bertanggungjawab (untuk urusan) itu; di dalam "Al-madhab Ahl" kata-kata merujuk kepada orang yang menganggap berpunca daripada agama yang sama; di dalam "Al-waber Ahl" kata-kata merujuk kepada rakyat yang hidup dalam khemah; di dalam "Al-hadhar wa al-madr Ahl" kata-kata merujuk kepada rakyat yang hidup dalam bangunan.

Al-Qur'an di dalam beberapa ayatnya secara jelas telah menggunakan perkataan "AHL" di dalam erti katanya yang lebih luas, dan tidak semata-mata terbatas kepada keluarga biologi nabi.

Misalnya, di dalam frasa "Al-kitaab Ahl", "Al-balad Ahl","Ahl Madian".

Kata-katanya tidak secara jelas biasa membayangkan 'sebuah keluarga'.

Berikut adalah contoh penggunaan seperti ini di dalam Surah Maryam (19): 54 -55, iaitu:

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diredhai di sisi Tuhannya."

Dan dengan menggunakan perkataan ini di dalam konotasi yang lebih luas ini, Al-Qur'an juga telah menjelaskan bahawa di depan Allah , sebuah keluarga yang sebenar terdiri daripada mereka yang dengan benar menghormati dan mengikutnya.

Nampaknya para misionaris perlu membetulkan pengetahuan mereka dalam Bahasa Arab dan nahunya sebelum cuba mendakwa bahawa al-Qur'an mempunyai permasalahan dan percanggahan.

Seperti yang telah diterangkan dahulu, metodologi yang terbaik untuk penafsiran al-Qur'an ialah menggunakan Al-Qur'an untuk menerangkan antara satu sama lain.

Tetapi sebagaimana lazimnya, para misionaris hanya akan menganggap bahawa Alkitab itulah yang merupakan wahyu Allah , tanpa menimbang atau mengkaji perkataan-perkataan Al-Qur'an itu sendiri dengan ikhlas dan tanpa prejudis.

Jawapan Kepada Persoalan Tentang zina

Dakwaan Misonaris Persoalan Tentang zina

Misionaris membuat dakwaan kononnya bahawa:

"Bunuhlah dirimu! Hal itu lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka Tuhan akan menerima taubat." (QS. 2 Al Baqarah - sapi betina- 54)

Bertentangan dengan:

"Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu." (QS 4 An Nisaa - wanita - 29)

Bantahan/Jawapan

Perbandingan Konteks Ayat-ayat 2:54 dan 4:29

Berikut adalah ayat Surah Al-Baqarah (2):54 beserta terjemahannya

Surah Al-Baqarah :54

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri kerana kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

Berikut pula adalah seluruh ayat Surah An-Nissa' (4):29 beserta terjemahannya (di mana misionaris hanya memetik hujung ayat tersebut)

Surah An-Nissa' :29

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka-sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

Sekiranya kita membandingkan dua ayat di atas yang di dakwa oleh misionaris Kristian sebagai "bercanggah" ini, kita akan dapat melihat bahawa Surah Al-Baqarah (2): 54 menceritakan kembali peristiwa Nabi Musa a.s. berdepan dengan kaumnya dan menganjurkan hukuman membunuh diri sebagai tanda taubat mereka agar diterima oleh Allah .

Manakala Surah An-Nissa' (4):29 ditujukan kepada orang-orang yang beriman, iaitu umat Nabi Muhammad  (orang Islam), baik pada zamannya dan juga zaman sekarang.

Memang jelas bahawa kedua-dua ayat sedang menceritakan tentang dua zaman yang berbeza, serta syariat yang berbeza.

Adalah tidak munasabah untuk menganggap bahawa syariat yang dianjurkan oleh Nabi Musa a.s. sama dengan syariat yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w., kerana sememangnya umat Islam sudah mengakui bahawa setiap syariat Nabi-nabi dan Rasul-rasul berbeza antara satu sama lain, tetapi hanya syariat Rasulullah  yang kekal sehingga ke hari kiamat.

Sekali lagi, misionaris Kristian telah gagal menemukan "percanggahan" di dalam ayat-ayat di atas.

Persoalan zina yang dikatakan bercanggah dalam Al-Quran


Dakwaan Misonaris Persoalan Tentang zina

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. 17 Al Israa -perjalanan malam hari- 32)

“Perempuan perempuan yang berzina dan laki laki yang berzina deralah masing masing seratus kali. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya….” (QS. 24 An Nuur -cahaya- 2)

Laki laki yang berzina tidak nikah melainkan dengan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak menikahinya melainkan laki laki yang berzina atau laki laki yang musyrik. Dan demikian diharamkan atas orang orang mukmin. (QS. 24 An Nuur-cahaya- 3)
bertentangan dengan:-

Dan orang orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri isteri mereka atau budak budak yang mereka miliki sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela” (QS. 23 Al Mukminun – orang yang beriman- 5,6)

Dan orang orang yang memlihara kemaluannya kecuali terhadap isteri isteri mereka dan budak budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela” (QS. 70 Al Ma’ariij -tempat naik- 29-30)

” … Kawinilah wanita wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat, jika kemudian kamu tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak budak yang mereka miliki.” (QS. 4 An Nisaa -wanita- 3)

“Kamu boleh mengganti siapa saja yang kamu kehendaki, juga boleh menggauli perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu.” (QS. 33 Al Ahzaab -golongan yang bersekutu- 51)

JAWAPAN

Tentang ZINA, mana PERTENTANGANNYA??

Tidak ada pertentangan wahai saudara, itu semua adalah bahagian2 HUKUM.

Maka cuba beritahu apa pertentangannya??

Tentang ayat “Kamu boleh mengganti siapa saja yang kamu kehendaki, juga boleh menggauli perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu.” (QS. 33 Al Ahzaab -golongan yang bersekutu- 51)

Ayat sebenarnya berbunyi begini

“Engkau boleh menangguhkan sesiapa yang engkau kehendaki dari mereka dan engkau boleh mendampingi sesiapa yang engkau kehendaki, dan sesiapa yang engkau hendak mendampinginya kembali dari mereka yang telah engkau jauhi itu maka tidaklah menjadi salah bagi mu melakukannya ……. ”

Surah Al Ahzaab : Ayat 51

Maksud sebenar  “mereka yang telah engkau jauhi itu” bukan BERCERAI seperti mana orang2 BERCERAI KAHWIN sekarang ini

Jauhi di situ iaitu nabi tinggalkan / jauhkan dari tempat tidur.

Ia berkenaan dengan kejadian masa itu dimana ada isteri2 nabi Muhammad S.a.w cemburu dan meminta tambahan BELANJA.

Maka Nabi Muhammad telah meninggalkan mereka sehingga sebulan.

Oleh kerana isteri2 nabi takut diceraikan oleh nabi, maka mereka pergi memujuk nabi

Selepas itu turunlah ayat itu yang MEMBERI KEIZINAN kepada nabi Muhammad untuk menggauli mana2 isteri-isterinya itu

Itu bukan perkataan CERAI seperti mana TALAQ dalam kahwin seperti sekarang ini

Kisah itu merujuk kepada kisah Nabi Muhammad S.a.w dengan isteri2nya

Perkataan ‘‘azalta’ / عَزَلۡتَ di dalam ayat itu bermakna ‘ yang kamu jauhi / tinggalkan‘

Dalam Englishnya set aside BUKANNYA divorce

Sedangkan CERAI bagi kahwin dalam bahasa arab bermakna ‘Talaq’

SEBAB itu lah mesti FAHAM BAHASA ARAB dengan betul dulu baru boleh terjemah ayat AlQuran dengan baik

***

Tentang ini pula

Abu Dzar mengatakan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: "Seseorang datang kepadaku dari Tuhanku membawa berita (mungkin katanya: membawa berita gembira):"Sesungguhnya barang siapa diantara umatku yang mati sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun orang itu masuk surga." Aku bertanya: "Sekalipun orang itu berzina dan mencuri?" Jawab nabi: "ya, sekalipun dia berzina dan mencuri." (Hadits Shohih Bukhori 647)

Jawapan kepada persoalan yang mengatakan hadis di di atas menyokong ayat-ayat Al-Quran yang telah disebutkan. 

Mengenai hadith di atas, walaupun kita melakukan dosa, tetapi beriman kepada Allah swt yang sebenar, kita tetap akan memasuki syurga setelah balasan di berikan.

TETAPI jika kita mempertuhankan Tuhan yang salah (atau dalam erti lain memeluk agama yang salah), sebanyak mana pun kita melakukan kebaikan, kita tetap akan berada dalam neraka kerana perkara pertama yang diterima Allah adalah IMAN.

Dalam bible juga menyebut mengEsakan Tuhan adalah hukum utama.

Jika hukum utama sudah dilanggari, apa yang nak di hitung dengan amalan yang kecil?

Berbalik kepada hadith tersebut, ia bukanlah perselisihan dengan surah an-Nur ayat 3 tetapi membawa maksud penzina atau pencuri itu tetap akan masuk syurga setelah pembalasan selesai ataupun kesalahannya diampunkan Allah swt, kerana Allah telah menyatakan semua dosa akan diampunkan melainkan SYIRIK (MENYEKUTUKAN ALLAH)

Rujukan Sumber:1 2

Al-Qur'an Mentafsirkan Antara Satu Sama Lain


Mantuk Al-Qur'an dan Mafhumnya

"Al-Qur'an mentafsirkan antara satu sama lain".

Ahli-ahli tafsir seringkali menyebut-nyebut ibarat ini ketika mereka berhadapan dengan suatu ayat Al-Qur'an yang mana maknanya kelihatan lebih jelas apabila ayat itu dibandingkan dengan suatu ayat lain.

Memang sudah sewajarnya bagi sekelian ahli tafsir itu mengikuti cara ini dalam penafsiran mereka mengenai ayat-ayat Al-Qur'an, kerana pengertian Al-Qur'an itu sangat halus dan menyeluruh.

Oleh sebab itu setiap kali kita bersua dengan ayat-ayat yang berbentuk umum atau mutlak atau mujmal yang memerlukan kepada takhsis atau takyid atau tafsil, melainkan selepas itu di tempat-tempat yang lain kita akan bersua pula dengan ayat yang mengtakhsis atau mengtakyid atau mentafsil segala ayat-ayat tadi.

Berdasarkan kepada pengertian yang menyeluruh ini maka sudah sewajarnya ianya memberi ilham kepada ulama untuk mencipta pelbagai istilah yang khas.

Tiap-tiap satunya melambangkan kepada suatu sifat yang nyata mengenai sesuatu konsep yang diseru oleh Al-Qur'an, atau mengenai sesuatu pemandangan yang digambarkan oleh Al-Qur'an.

Dari sini lahirlah bermacam-macam bentuk istilah mengenai Al-Qur'an dalam pengajian Islam. Ada yang dinamakan Mantuk Al-Qur'an dan Mafhumnya, ada pula yang dinamakan Am, Khas, Mutlak, Muqayad, Mujmal dan Mufassal.

Segala istilah ini diberikan fakfir masing-masing serta dengan contoh-contohnya sekali. Juga dipaparkan bermacam-macam syahid dan dalil bagi membezakan setiap istilah tadi.

Ulama mempunyai pelbagai cara pembahasan dalam kajian mereka terhadap istilah-istilah tadi. Setengan dari mereka mengkaji atas dasar perundangan (tasyrik), mereka adalah dari golongan ulama usul fiqah.

Ada pula yang mengkajinya atas dasar mantik, iaitu golongan ulama Ilmu Kalam.

Manakala golongan yang lain pula - dalam kajian ini kami bersama-sama mereka - lebih suka meninjau setiap istilah itu dari kaca mata bahasa Arab dan sasteranya, supaya dapat diikuti dengan penuh minat dan dirasai nikmatnya setiap langkah yang diatur oleh Al-Qur'an ketika ianya menuturkan dan mentakbirkan mengenai sesuatu.

Perkara pertama yang patut diketahui dari kumpulan istilah ini ialah Mantuk Al-Qur'an dan Mafhumnya, kerana kedua-duanya akan menghuraikan dengan panjang lebar segala jenis dilalah Al-Qur'an sama ada yang diambil dari lafaz atau makna.

Kedua-duanya meliputi nas, ayat zahir, ayat yang ditakwil, saranan kitab, getarannya, berbagai makna gambaran, syarat dan pembatasan.

Segala-galanya ini akan kami jelaskan berserta dengan contoh-contohnya sekali yang kami kumpul dari beberapa tempat di dalam Al-Qur'an.

Takrif Mantuk

Mengenai takrif Mantuk, ulama berkata: Mantuk ialah sesuatu pengertian yang ditunjukkan oleh sesuatu lafaz di waktu dituturkan lafaz itu.

Dari takrif tadi dapatlah difahamkan bahawa satu-satunya jalan untuk mengetahui dilalah sesuatu ayat itu ialah dengan melafazkan ayat itu. Ini jelas terbukti pada "nas" yang lafaznya hanya mengandungi satu makna sahaja.

Seperti dilalah firman Allah :

Surah Al-Baqarah : 196

yang bermaksud: "Maka hendaklah ia berpuasa tiga hari semasa dalam haji, dan tujuh hari apabila kembali pulang. Semuanya itu sepuluh hari genap".

Lafaz dalam ayat itu tidak mungkin mengandungi makna lain selain dari menerangkan genap sepuluh hari sebagaimana yang dituturkan dan dinaskan oleh ayat itu.

Begitu juga apa yang dinamakan dengan istilah "zahir"; iaitu suatu lafaz yang secara spontan difahamkan dengan makna yang tertentu, tetapi di samping itu ia juga mempunyai makna lain yang marjuh.

Lafaz zahir ini juga tergolong dalam jenis Mantuk. Kerana makna yang rajih dari sesuatu lafaz Mantuk diutamakan dari makna yang marjuh.

Untuk menjelaskan perkara ini, sila perhati firman Allah:

Surah Al-An'am : 145

yang bermaksud :

"Barang siapa di dalam keadaan terpaksa (memaksa) tidak sehingga melakukan zalim dan melampau hukum, sesungguhnya Tuhan engkau pengampun dan penyayang".

Dalam ayat ini perkataan () mempunyai dua makna; pertama makna marjuh, iaitu seorang yang jahil, kedua makna yang rajih, iaitu seorang yang zalim. Kita katakan makna yang kedua, rajih, kerana ianya yang zahir dan yang pertama-tama difahamkan dari susunan ayat itu.

Termasuk dalam golongan lafaz Mantuk juga, iaitu lafaz "muawwal" (lafaz yang ditakwilkan maknanya), iaitu lafaz yang maknanya mustahil dimengertikan mengikut makna zahirnya, lalu dialihkan maknanya kepada suatu makna lain yang ditentukan oleh susunan ayat.

Lafaz seperti ini juga dimasukkan ke dalam golongan lafaz Mantuk, kerana maknanya yang zahir dan mustahil marjuh, dan maknanya yang ditentukan oleh susunan ayat itu yang rajih di mana lafaz itu sendiri hampir-hampir menerangkan makna itu.

Sebagai contoh firman Allah :

Surah Al-Hadid : 4

yang bermaksud:

"Dia berserta kamu di mana kamu berada".

Di dalam ayat ini, mustahil untuk dimengertikan makna berserta itu dengan makna Zat Allah duduk berdekatan dengan mereka.

Sebab itu ianya lebih tepat kalau ditakwilkan dengan makna berkuasa, mengetahui dan memelihara. Makna-makna ini lebih tepat dari makna pertama tadi.

Ianya difahamkan dari lafaz Mantuk itu sendiri, bukan sengaja diada-adakan.

Takrif Mafhum

Manakala pengertian Mafhum pula, para ulama mengistilahkannya begini: "Sesuatu pengertian yang ditujukan oleh sesuatu lafaz, tidak pada waktu dituturkan lafaz itu".

Dari takrif tadi, dapatlah difahamkan bahawa satu-satunya jalan untuk mengetahui dilalah Mafhum ialah dengan melalui makna zihni (makna dalam kepala). Istilah Mafhum terbahagi kepada dua.

Pertama Mafhum Muwafaqah (persamaan); iaitu sekiranya hukum Mafhum sesuatu lafaz itu membetulkan hukum Mantuknya.

Kedua, Mafhum Mukhalafah (bersalahan); iaitu sekiranya hukum Mafhum sesuatu lafaz itu menyalahi hukum Mantuknya.

Kemudian kedua-dua bahagian Mafhum ini berpecah pula kepada beberapa cabang yang lain.

Umpamanya, mafhum Muwafaqah itu berpecah pula kepada apa yang dinamakan "Fahwal Khitab"; iaitu: Jika sekiranya Mafhum sesuatu lafaz itu menunjukkan kepada suatu makna yang lebih utama dipegang dan ambil iktibar. Seperti dilalah firman Allah

Surah Al-Israa : 23

yang bererti:

"Jangan berkata kepada ibu bapa kamu perkataan oh!"

kepada makna mengharamkan memukul kedua ibu bapa, kerana perbuatan memukul itu lebih utama diharamkan dari perkataan oh! itu.

Dan kepada apa yang dinamakan "Lahnul Khitab"; iaitu: Sekiranya Mafhum lafaz itu menunjukkan suatu makna yang sama dengan makna Mantuknya dari segi hukum.

Seperti dilalah firman Allah

Surah An-Nissa : 10

yang bererti:

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan zalim, sesungguhnya mereka memakan api sepenuh perutnya dan nanti mereka dimasukkan ke dalam api nereka"

kepada mengharamkan membakar harta anak yatim, kerana yang dimaksudkan dengan pengharaman di sini ialah dasar memusnah dan membinasakan harta itu, sama ada dengan cara memakannya ataupun membakarnya.

Kedua-duanya sama sahaja dari segi natijahnya, iaitu memusnahkan harta itu.

Mafhum Mukhalafah juga terbahagi kepada beberapa jenis, di antaranya yang paling penting ialah: Mafhum Wasfi, Mafhum Syarti dan Mafhum Hasri.

Mafhum Wasfi agak luas bidangnya, ianya tidak hanya terbatas kepada Na'ti (sifat) sahaja, tetapi meliputi setiap sesuatu yang memberi makna sifat; seperti Hal, Zaraf dan Adad (bilangan).

Misal bagi Na'ti (sifat) firman Allah:

Surah Al-Hujurat : 6

yang bererti:

"Jika datang kepada kamu orang fasik membawa sesuatu berita, hendaklah kamu periksa kebenarannya, kerana takut, kalau-kalau kamu melibatkan satu kaum dengan kerana kejahilan kamu itu".

Mafhumnya, kita tidak wajib atau tidak perlu selidiki atau periksa berita yang dibawa oleh seseorang manusia yang tidak fasik.

Umpamanya, jika seseorang yang bersifat dengan sifat adil - tidak fasik - membawa sesuatu berita kepada kita, maka terus sahaja kita menerima berita itu tanpa ragu-ragu lagi dan tidak perlu kita periksa kebenarannya, kerana kita menaruh kepercayaan penuh kepada manusia adil tadi.

Dari sinilah para ulama mengambil kesimpulan bahawa sesuatu khabar yang diriwayatkan oleh seseorang rawi yang adil, maka wajib diterimanya.

Teks terjemahan oleh En. Zainal Abidin Abdul Kadir
Dipetik daripada buku Kajian Al-Qur'an
Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1977)

Al-Qur'an Mentafsirkan Antara Satu Sama Lain
Dr. Subhi Salleh
Professor Pengajian Islam dan Ilmu Bahasa,
Fakulti Sastera,
Universiti Lebanon

© Menjawab Dakyah Kristianisasi, Hakcipta Terpelihara.


Sumber

Kitab Injil

Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa yang mengandungi wahyu-wahyu Allah SWT.

Kewujudan injil dan Torah disahkan oleh Allah dalam ayat di bawah ini yang bermaksud,

Firman Allah SWT,

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

 نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ

"Allah tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap Hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan sekalian makhlukNya.

Ia menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci (Al-Quran) dengan mengandungi kebenaran, yang mengesahkan isi Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripadanya, dan Ia juga yang menurunkan Kitab-kitab Taurat dan Injil."

[3:2-3 Surat 'Āli `Imrān (Family of Imran) - سورة آل عمران]

Ayat di atas menerangkan bahawa Allah SWT telah menurunkan al-Quran yang mengesahkan ajaran yang terkandung dalam Taurat dan Injil.

Taurat dan Injil juga menerangkan tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.

Sungguhpun demikian, Injil yang dimaksudkan dalam al-Quran bukan al-Kitab yang mengandungi Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Johanes yang digunakan oleh penganut Kristian sekarang.

Kitab-kitab tersebut juga bukan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa kerana ia ditulis oleh pendeta-pendeta Kristian dan penulis yang tidak dikenal pasti.

Selain itu, Injil yang diimani oleh penganut kristian masih terdapat sebahagian wahyu Allah yang tidak berjaya diubah suai.

Al-Quran menjelaskan tentang sifat-sifat kaum Nasrani yang menyembunyikan sebahagian kandungan asal Injil seperti dilaporkan dalam ayat di bawah ini yang bermaksud,.

Firman Allah SWT,

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۚ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan di antara orang-orang yang berkata:" Bahawa kami ini orang-orang Nasrani", Kami juga telah mengambil perjanjian setia mereka, maka mereka juga melupakan (meninggalkan) sebahagian dari apa yang diperingatkan mereka dengannya, lalu Kami tanamkan perasaan permusuhan dan kebencian di antara mereka, sampai ke hari kiamat; dan Allah akan memberitahu mereka dengan apa yang telah mereka kerjakan. ”

[5:14 Surat Al-Mā'idah (The Table Spread) - سورة المائدة ]

Isi kandungan Injil mempunyai lebih paling banyak persamaan dengan al-Quran berbanding kitab-kitab yang lain.

Namun, orang Islam tidak diwajibkan untuk mengamalkan ajaran yang terdapat dalam kitab Injil kerana Injil diturunkan khas kepada Bangsa israil seperti diterangkan dalam ayat di bawah ini yang bermaksud,

Jika ajaran tersebut sama dengan kandungan al-Quran dan hadis maka umat Islam wajib menerimanya.

Jika bercanggah dengan al-Quran dan hadis, maka umat Islam wajib menolaknya.

Isu Perkahwinan Rasulullah SAW Dengan Aisyah RA


Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, berkata ia: Menceritakan kepad kami Sufyan dari riwayat Hisyam, dari riwayat ayahnya, dari riwayat Aisyah RA: 

Bahwasanya Nabi SAWS menikahinya ketika umur beliau enam tahun, dan hidup serumah dangannya ketika umur beliau (Aisyah) sembilan tahun, dan beliau hidup beserta Rasul selama sembilan tahun. (H.R Bukhari: 5133)

Jawapan kepada isu ini:

1. Sabit dalam hadis-hadis sahih bahawa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkahwin dengan Aisyah r.a. ketika beliau berumur 6 tahun dan mereka mula bersama ketika Aisyah berumur 9 tahun.

2. Fakta ini diterima dengan kesepakatan seluruh umat Islam. 

Kata Ibn Kathir, “Hadis baginda berkahwin dengan Aisyah ketika berumur 6 tahun, dan bersama dengannya ketika berumur 9 tahun’ tidak ada khilaf antara manusia.

Ia sabit dalam kitab-kitab hadis sahih dan lain-lain”.

(Al-Bidayah wa an-Nihayah 3/161).

3. Tidak ada keganjilan dalam kes ini, kerana wanita yang hidup di negara-negara beriklim panas lebih cepat baligh, lebih cepat matang dan bersedia untuk menjadi isteri lebih awal.

Aisyah r.a. sendiri mengakui dengan kata-katanya, “Apabila kanak-kanak wanita mencapai umur 9 tahun, maka dia sudah bergelar wanita”. (Sunan Tirmizi 3/417).

Kata Imam Syafie: “Aku melihat banyak sekali di Yaman kanak-kanak perempuan baligh ketika usia 9 tahun”. (Siyar A’lam Nubala 10/91).

Kata Imam Syafie lagi: “Aku menjumpai di San’aa (Yaman) seorang nenek berusia 21 tahun”. Dia mula haidh (baligh) ketika usia 9 tahun, dan melahirkan anak ketika usia 10 tahun. Anaknya pula haidh ketika usia 9 tahun dan beranak ketika usia 10 tahun”. (Sunan Kubro Baihaqi 1/319).

Jadi, kebiasaan wanita-wanita Arab baligh dan bersedia menjadi isteri ketika usia 9 tahun.

4. Antara yang menunjukkan kebiasaan Arab pada zaman tersebut wanita berkahwin dalam usia yang begitu muda, ialah tidak dinukilkan oleh sejarawan bahawa musuh-musuh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mentohmah baginda dengan kes perkahwinannya dengan Aisyah.

Jika sekiranya ia suatu yang mengaibkan, nescaya pasti dinukilkan tohmahan-tohmahan daripada musuh-musuh sekelilingnya dari kalangan musyrikin dan munafiqin.

5. Perkahwinan baginda dengan Aisyah juga adalah pilihan Allah Taala untuk baginda. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah bermimpi tentangnya, dan dimaklumi mimpi baginda adalah wahyu.

Di dalam Sahih Bukhari, maksudnya: Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata kepada Aisyah,

“Aku melihat engkau di dalam mimpi sebanyak dua kali.

Iaitu engkau berada di dalam kelubung daripada sutera.

Dan dikatakan kepadaku: Inilah isteri kamu, maka singkapkanlah dia.

Tiba-tiba perempuan itu ialah engkau.

Lalu aku berkata: Jika ia adalah daripada Allah, maka Dia akan meneruskannya”.

(Bukhari no: 3682).

6. Antara hikmah perkahwinan baginda dengan Aisyah ialah dari sudut sebaran ilmu hadis. 

Dimaklumi Aisyah adalah seorang wanita yang cerdik dan bijak. Kebersamaannya dengan baginda sejak usia 9 tahun telah memberi ruang yang luas kepadanya untuk tahammul (menghafal) hadis-hadis Nabi.

Dan terbukti beliau termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

7. Tohmahan musuh-musuh Islam, bahawa baginda berkahwin dengan Aisyah yang muda semata-mata kerana nafsu adalah tertolak. 

Lihatlah kesemua isteri-isteri Nabi sallallahu alaihi wasallam selain Aisyah RA.

Kesemua mereka adalah janda, kecuali Aisyah. Malahan ada yang menjadi isteri baginda ketika sudah berusia seperti Saudah.

Sebenarnya, musuh-musuh Islam sudah ketandusan idea untuk menolak kehebatan dan kebenaran agama Islam ini. Sehingga akhirnya mereka terpaksa membuat tohmahan berbentuk keduniaan pula.

Sumber

Kematian Kristus Di Kayu Salib Atau Perogolan Suci Yessica?

Baca pengenalan!

Segala puji-pujian bagi Allah, Tuhan yang Satu, yang tidak mempunyai isteri mahupun anak.

Artikel ini merumuskan pemerhatian saya semasa menyelidik nas Alkitab golongan Kristian yang berlegar-legar di pemikiran saya sejak sekian lama. 

Apa yang mengalakkan saya mempersembahkan rumusan ini adalah hakikat bahawa tiada seorang pun Kristian yang saya rujuk mampu mebuat bantahan terhadap teori saya ini.

Seperti yang kita sedia maklum, asas akidah agama Kristian adalah berdasarkan dua perkara yang berikut:

Dosa asal yang diwarisi daripada Adam.

Penyaliban dan korban darah Yesus kerana dosa asal Adam untuk penebusan dosa manusia seluruhnya.

Setelah mengkaji dan menyelidiki nas Alkitab golongan Kristian, pembaca akan dapat memerhatikan bahawa ia menyatakan sesuatu yang berlainan daripada kedua-dua asas yang kita nyatakan tadi dan mendedahkan suatu rahsia yang merupakan fakta yang tersembunyi.

Dalam merenung kembali perkara ini, kita perhatikan bahawa akidah agama Kristian boleh dinyatakan sebagai: “Adam telah melakukan dosa”.

Jika kenyataan ini terbukti, maka kita juga akan menjumpai kenyataan “Keturunan Adam mewarisi dosa daripada dosa asal Adam”.

Jika kenyataan ini terbukti juga, maka kita boleh menjumpai kenyataan yang seterusnya menuju kepada kesimpulan pernyataan “Almasih disalib sebagai penebus dosa manusia”.

Adalah diperakui oleh ilmu mantik bahawa akibat adalah disebabkan oleh sesuatu penyebab; jika sebab-sebabnya adalah benar, maka akibatnya adalah benar, tetapi jika sebab-sebabnya tidak benar, maka mustahil akibatnya adalah benar.

Sebagai contoh, jika saya berkata: “Mat membaling bola dengan kuat” dan kemudian berkata: “Bola bergerak disebabkan daya momentum seseorang”, maka kesimpulannya adalah bola ini bergerak disebabkan daya momentum semasa Mat membalingnya, dan perkara ini adalah benar.

Perkara ini tidak mempunyai kaitan dengan agama Islam atau agama Kristian kerana ini merupakan perkara asas intelektual yang telah lama disepakati oleh ilmu mantik.

Maka, jika kita mahu mengaplikasikan perkara dalam ilmu mantik ini kepada akidah orang Kristian, kita harus bertanya mengenai kebenaran pernyataan pertama di mana terletaknya asas akidah Kristian: “Adam telah melakukan dosa”

Supaya kita berlaku adil kepada golongan Kristian dan supaya kajian kita ini diterima oleh mereka, kita akan merujuk kepada Alkitab yang diterima pakai oleh mereka untuk menyokong pernyataan-pernyataan berikut.

Mari kita mulakan dengan bertanya: “Siapakah yang melakukan dosa? Adam atau Hawa?”

Para penganut agama Kristian mempercayai bahawa jawapannya adalah Adam.

Namun, jika kita merujuk kepada Alkitab, kita akan mendapati bahawa ini tidak benar dan Adam tidak bersalah dalam perkara ini!

Berikut adalah bukti-buktinya:

Bukti pertama:

Kejadian 3:1-6

“Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.

Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’

Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah taman Allah berfirman: Jangan kamu makan atau raba buah itu, nanti kamu mati.’

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang baik dan yang jahat.

’Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipun pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.

Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya”.

(Alkitab terjemahan LAI, 2000)

Daripada teks di atas, kita mendapati bahawa Hawa-lah manusia pertama yang digoda untuk melakukan dosa dengan memakan buah terlarang tersebut, kemudian barulah Adam memakannya.

Maka Hawa-lah yang merupakan penyebab dosa asal yang menyebabkan seluruh manusia ditimpa dosa dan bukan suaminya Adam, kerana Adam bukan orang yang pertama memakan buah terlarang tersebut.

Bukti kedua:

Bukti yang kita dapati daripada teks di atas diperkuatkan lagi dengan sebuah ayat di dalam Perjanjian Baru yang diimani oleh orang-orang Kristian hari ini:

1 Timotius 2:14

“Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”

(Alkitab terjemahan LAI, 2000)

Bukti ketiga:

Dosa asal Adam tidak pernah disebutkan oleh Almasih di dalam Injil-injil tulisan Markus, Lukas, Matius dan Yohannes, maka ini menguatkan lagi hujah kita bahawa Almasih tiada kena-mengena langsung dengan dosa Adam.

Dalam menyemak semula bukti-bukti yang diberikan seperti diatas, maka didapati bahawa beberapa perkara penting telah didedahkan:

Pertama: Bukti jelas menunjukkan bahawa Adam tidak bersalah dan bebas daripada melakukan dosa di dalam Alkitab kerana jelas beliau tidak melanggari perintah Allah dan Hawa, isterinya yang melanggarinya.

Kedua: Penganut Kristian percaya bahawa dosa asal di mana seluruh umat manusia mewarisinya daripada “pendosa pertama” perlu melalui penebusan dosa.

Oleh itu, jika kita merujuk kepada hakikat bahawa Hawalah yang merupakan manusia pertama yang melakukan dosa asal dan Adam hanyalah merupakan mangsa kepada kesalahan Hawa ini, maka adalah lebih logik bahawa penebusan dosa melalui senario yang berikut:

Manusia yang seharusnya dikorbankan selayaknya adalah seorang wanita, bukannya seorang lelaki.

Jadi Tuhan Allah sepatutnya menjelma di dalam bentuk seorang wanita, bukannya lelaki, yang untuk tujuan ini kita namakan sebagai Yessica, bukannya Yesus.

Ia adalah sebagai syarat supaya dia boleh melaksanakan penebusan dosa bagi dosa asal Hawa sepertimana yang termaktub di dalam Alkitab.

Suatu pengorbanan suci paling besar bagi penebusan dosa untuk seluruh umat manusia daripada dosa asal Hawa yang tidak mungkin dapat dihilangkan melainkan dengan darah keperawanan Tuhan Yessica.

Selama mana orang-orang Kristian percaya bahawa penebusan dosa perlu dilakukan dengan pengorbanan paling penting yang dimiliki oleh seorang Juruselamat, maka Tuhan Allah yang menjelma sebagai seorang wanita seharusnya mengorbankan sesuatu yang paling penting baginya: iaitu kehormatannya.

Adalah diketahui bahawa kehormatan seorang wanita yang terkenal alimnya merupakan sesuatu yang paling penting kepadanya, hatta walaupun diambil nyawanya sendiri.

Maka senario yang paling logik – menurut standard yang diatur oleh orang-orang kristian sendiri – adalah bahawa seharusnya Allah membiarkan segerombolan Yahudi merogol Tuhan Yessica sebagai cara penebusan dosa daripada dosa asal Hawa untuk menghapuskan godaan yang diwarisi.

Oleh itu darah keperawanan milik seorang wanita bernama Yessica dan bukannya penyaliban Yesus di kayu salib selayaknya menjadi penebusan dosa asal Hawa, jika logika Alkitab dituruti.

Maka stigma kehormatan Yessica yang tercabul, yang tentunya akan terlekat juga kepada para pengikutnya, termasuk deraan-deraan yang akan dialaminya disebabkan perkara ini, akan menjadi suatu pengorbanan suci paling besar bagi penebusan dosa untuk seluruh umat manusia daripada dosa asal Hawa yang tidak mungkin dapat dihilangkan melainkan dengan darah keperawanan Tuhan Yessica.

Kesimpulannya:

Keputusan daripada kajian kita ini ialah bahawa perogolan suci Yessica, dan bukannya penyaliban Yesus Kristus, seharusnya menjadi simbol penebusan dosa yang sepatutnya diadaptasikan oleh umat Kristian khususnya dan dipersembahkan kepada umat manusia amnya.

Walau bagaimanapun, kami percaya bahawa tidak ada sesiapapun yang mampu mempercayai betapa jijiknya akidah yang dibawa oleh para misionaris Kristian jika perkara ini tidak didedahkan.

Akhirul kalam, segala pujian hanyalah kekal bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Sumber

Copyright @ 2013 Alkitab - Kitab Injil atau Bible (Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama).